Openship Kapal Serang Amfibi Dixmude Milik AL Prancis
- Jun 7, 2015
- 2 min read

Kapal serang amfibi Dixmude (kelas Mistral)
milik AL Prancis
Sabtu pagi (6/6/2015) rombongan kami yang terdiri dari kawan-kawan lama beserta istri, anak atau kerabatnya berkumpul di JICT Terminal 2 Tanjung Priok. Satu tujuan: ingin melihat 'daleman' salah satu alutsista milik AL Prancis yang sedang sandar di Jakarta.


Dixmude dan Aconit (fregat kelas Lafayette)
Yang berkunjung ke Jakarta kali ini adalah sebuah kapal serang amfibi kelas Mistral yang dinamai Dixmude bernomor lambung L9015. Ia ditemani oleh sebuah fregat ringan kelas Lafayatte, berteknologi stealth, bernama Aconit, yang sayangnya seperti halnya kapal tempur lain yang berkunjung ke negara lain tidak dibuka untuk umum. Alasannya mudah ditebak: kerahasiaan.

Dixmude yang masuk kategori kapal serang amfibi, juga dikenal sebagai pengangkut helikopter. Ia sanggup membopong 16 heli yang bisa disimpan di dek atas maupun bawah (dibantu elevator) dengan 4 titik pendaratan. Mampu membawa 70 kendaraan termasuk belasan tank berat, atau 40 tank, 2 hovercraft ukuran medium dan 450 personel. Dixmude juga bisa difungsikan sebagai rumah sakit apung dengan 69 tempat tidur dan memiliki ruang operasi sendiri.

AL Prancis memiliki 3 buah kapal kelas Mistral yakni Mistral, Tonnere dan Dixmude sendiri. Yang menarik, sejak 2009 Rusia telah melirik dan berniat membeli kapal amfibi kelas Mistral ini (kemudian ditunda oleh Presiden Francois Hollande menyusul gejolak politik antara Rusia dan Ukraina.

Ramai-ramai di dek landas heli Dixmude

Landing dock Dixmude
Rusia yang biasanya percaya diri dengan industri pertahanannya ternyata malah membeli dari sebuah negeri Barat yang dulunya merupakan pesaingnya. Tentu ada alasannya. Minat besar Rusia terhadap kapal amfibi kelas Mistral seperti Dixmude ini menyiratkan perubahan pemikiran strategis Rusia. Pasifik di mata Rusia, dan dunia global, telah menjadi medan strategis untuk kepentingan nasionalnya. Gejolak di kawasan Mediterania, termasuk soal aneksasi Crimea, dan Timur Tengah menuntut kuatnya basis AL Rusia di Vladivostok dan Sevastopol. Selain itu juga mengisyaratkan ketidakpercayaan diri industri perkapalan Rusia.

Ruang perawatan dengan 69 tempat tidur dan ruang operasi
Bagaimanapun, openship Dixmude untuk umum ini tentu sangat menarik untuk sebagian besar anggota rombongan yang jarang melihat kapal perang dari dekat. Ibarat kunjungan wisata, mereka bisa dipandu oleh seorang tentara wanita yang ramah dan beberapa pelaut pria AL Prancis berkeliling ke dok tempat keluarnya kendaraan, tank atau hovercraft, ke ruang rumah sakit, dek tempat landing helikopter, ruang navigasi dan ruang kendali nahkoda. Yang mengasyikkan, pengunjung yang sebagian di antaranya anak-anak pun bisa berselfie ria hampir di semua bagian ruang kapal, kecuali ruang kendali.

Ruang kendali Dixmude menatap ke depan
Yang tak kalah menarik adalah kru kapal Dixmude sendiri. Untuk ukuran tentara, mereka tergolong ramah sekali. Sejak di pintu masuk, seorang Prancis keturunan Afrika sudah menyambut. Sewaktu kami pulang, dia bilang "thank you, assalamualaikum...", dia mencoba menunjukkan keramahannya. Sedangkan petugas yang mengantar kami berkeliling, juga terlibat tanya jawab dengan anggota rombongan. Kadang, karena pengunjung kebanyakan orang yang awam dengan dunia kapal perang, jadi bertanya A sampai Z. Kadang hal yang penting, dan kadang pula malah bikin tertawa. Ya itulah, sebuah kunjungan awam ke kapal perang. Malah justru mengasyikkan.

















Comments